The Three World of Galigo

Maharani Budi & Louie Buana
2020

Masyarakat Bugis kuno di Sulawesi Selatan meyakini bahwa jagad raya ini terdiri atas “tiga lapis dunia, tujuh susun langit dan bumi, serta berbentuk segiempat belah ketupat”. Pandangan tersebut tertuang di dalam Sureq Galigo, naskah yang disakralkan oleh manusia Bugis sebelum kedatangan agama Islam. Epos La Galigo yang didapuk sebagai cerita terpanjang di dunia memaparkan bagaimana semesta ini tercipta serta awal mula manusia hadir di Ale Lino, Dunia Tengah. Cerita dimulai dengan kesepakatan antara Datu Patotoé, penguasa Boting Langiq (kahyangan) dan Opu Samudda, penguasa Perettiwi (negeri di bawah samudera) untuk menurunkan Batara Guru, putra sulung Datu Patotoé serta menaikkan We Nyiliq Timoq dari Perettiwi ke Ale Lino sebagai pasangan manusia pertama. Tujuan dari pengisian Dunia Tengah yang masih kosong itu adalah agar hakikat Kedewataan para penguasa adikodrati di Boting Langiq dan Perettiwi dapat dikenali mahluk lain, diakui, diagungkan serta disembah.

Secara simbolik, eksistensi manusia di Dunia Tengah amat bergantung kepada kedua dunia lainnya, begitu pula sebaliknya. Ketiga lapis dunia Galigo direpresentasikan dalam bentuk sulappa eppaq walasuji (segiempat belah ketupat). Sulappa eppaq walasuji adalah representasi dari empat elemen dasar yang menopang semesta secara makrokosmos (air, api, udara, tanah) serta empat unsur manusia sempurna di mata Dewata sebagai mikrokosmos: ammacangeng (kecendekiaan), asugireng (kekayaan), akkarungeng (kekuasaan), dan akkesingeng (ketampanan/kecantikan). Keempat sisi alam semesta Galigo dijaga oleh empat rasi bintang yakni Manuké (Ayam Jantan), Jonga-Jonga (Rusa), Mangiweng (Ikan Hiu) dan Worong Mporong (Tujuh Tumpuk Anak Bintang). Keempat rasi tersebut beserta ribuan bintang lainnya di langit hingga saat ini masih dianggap sebagai panduan hidup manusia Bugis, utamanya pada bidang pertanian dan pelayaran.

Data Diri

Maharani Budi & Louie Buana merupakan dua dari empat founder komunitas heritage, La Galigo for Nusantara atau yang disingkat Lontara Project sejak tahun 2011 lalu sebagai wadah konservasi kreatif bagi anak muda untuk melestarikan epos La Galigo. Sejak saat itu keduanya telah beberapa kali menghasilkan produk-produk kreatif bertemakan heritage/La Galigo seperti buku, novel, tulisan, ilustrasi, serta menginisiasi program hingga diundang menjadi kontributor dalam berbagai kegiatan-kegiatan budaya.

Di sela-sela kesibukannya menggarap penelitian, projek desain, maupun pengembangan Museum di Palembang dan Malang, sejak menamatkan studinya di RMIT Melbourne (2018) – Maharani Budi, M.Ds., M.Advtg bekerja sebagai dosen Advertising di Fakultas Industri Kreatif Telkom University. Semenatra Louie Buana, SH., BA., LL.M. adalah seorang peneliti muda di Universitas Gajah Mada. Lulusan dari Jurusan Colonial and Global History, Leiden University (2015) dan Advance Master in European and International Human Rights Law, Leiden University (2016) ini juga merupakan anggota Tim Penyusun Narasi & Storytelling Legenda Borobudur oleh UGM & Kemenpar.