Nyi Roro Kidul vs Corona

Mix Media (Charcoal, Spidol Hitam dan Tinta Cina Hitam) dalam 10 payung diameter 40 cm

 

Ariesa Pandanwangi
2020

Payung kertas dari Tasikmalaya kerap disebut dengan payung geulis merupakan salah satu warisan budaya dan dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari (Juwita. 2014; Sofyan. 2018). Bentuk payung beraneka ragam dan disesuaikan fungsinya. Salah satu fungsinya dalam upacara adat payung geulis menjadi penanda keagungan iring-iringan penganten adat Sunda. Payung kertas dengan tongkat penyangga panjang berhiaskan kelopak bunga pada ujung tudungnya juga selalu ada ketika menghantar sesajen yang ditebar laut Selatan. Namun ketika wabah pandemi Corona muncul, kemanakah payung kertas? Dalam karya seni yang mengusung kertas, maka peran dan fungsi payung kertas ini bergeser menjadi dasar kertas untuk memvisualisasikan Nyai Roro Kidul, yang dipercaya sebagai penghuni laut sepanjang masa. Semoga payung kertas tetap terabadikan melalui karya seni.

Tampilan visual 10 payung diameter 40 cm

  • 1 payung tampilan visual “Nyi Roro Kidul”

  • 4 payung tampilan visual ikan di laut

  • 5 payung tampilan visual VC19

    Media
    Charcoal dan Tinta Cina Hitam

    Display

  • Background kain hitam

  • Dijajar di lantai 5 payung

  • Ditumpuk di atasnya 5 payung

  • Pada bagian belakang payung di beri lampu.

Curriculum Vitae

Ariesa Pandanwangi, lahir, sekolah dan bekerja di Bandung. Saat ini berprofesi sebagai staf pengajar di Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha. Aktif meneliti, menulis, dan berkarya seni. Selain itu juga sebagai aktifis dalam bidang kegiatan sosial yang tergabung di Lions Club Distrik 307 B2 Indonesia. Kegiatannya dalam berkesenian diwujudkannya dengan mensinergikan banyak energi kreatif perempuan Indonesia melalui wadah Komunitas 22 Ibu. Kini bersama dengan rekannya dari Malaysia menginisiasi ASEAN Digital Art Society.