Menuju yang tak berbatas

Hari ini, ketika sebuah peristiwa besar terjadi, pertanyaan mengenai bagaimana  aktivitas kita saat ini akan menjadi suatu yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya. Peristiwa sekarang menuntut kita untuk berubah dan beradaptasi seperti melakukan pembatasan ruang gerak maupun interaksi. Ketika bekerja  dan  interaksi menjadi sebuah rutinitas, berbagai hal yang seharusnya bisa menjadi suatu renungan bisa saja terlewat bahkan terlupakan. Dalam hal ini segala aktivitas manusia menjadi perhatian. Isu penting manusia sebagai sentral terjadinya perubahan yang ada di bumi ini sebenarnya cukup mengemuka, apalagi didorong berbagai peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi. Renungan ikhwal manusia dan kemanusiaannya menjadi  persoalan setiap zaman. 

Pertanyaan mengenai apa itu manusia,dari jaman Plato ketika berdebat dengan Diogenes mengenai apa itu manusia dengan dua kakinya, kemudian Aristoteles menyebut manusia sebagai makhluk sosial dan politik hingga Adam Smith yang menyebut manusia sebagai makhluk kapital yang bisa saling melakukan sesuatu untuk mencari keuntungan. Ketika debat Plato dijawab dengan ayam oleh Diogenes, kemudian pendapat Aristoteles dihubungkan dengan semut dan lebah sebagai hewan yang  secara struktur sosial dan strata politik dengan lebih tertib, sampai Adam Smith yang mungkin juga terbantahkan dengan perilaku simpanse, sampai mungkin perdebatan itu akan ada terus menerus. Deepak Chopra pernah menyebut  

Human potential is infinite because consciousness has no boundaries. Being human means being anything can happen. For the moment let explore the inner world of possibilities. There are ways in which outer reality is much more malleable through consciousness than anyone supposes. Since consciousness is the foundation of reality, we shouldn’t set down any absolute limits.(Chopra, 2019:131 ) 

Mungkin manusialah yang akhirnya memiliki visi realitas selain untuk bertahan juga tetapi juga untuk menjadi seorang kreator yang tidak terbatas, dengan kesadaran dalam berbagai aspek dimensional. Aspek tindakan, kompleksitas berpikir, keingintahuan, hingga berjejaring secara sosial menjadikan hal ini menjadi suatu dimensi yang  rumit. Ibarat sebuah rumah dengan berbagai ruang dan kamarnya, seorang seniman bisa jadi menjadi seorang pemegang kunci  dari pintu masuknya.  

Seorang seniman konon memiliki berbagai aspek melihat, mengobservasi, meneliti, dan bahkan menciptakan berbagai gagasan dan persoalan. Aspek penciptaan pada seniman merupakan hal dasar yang akhirnya mendorong untuk menjadikan representasidari diri maupun yang di luar diri dan sekitarnya menjadi sebuah karya. Saat ini ketika mobilitas dan pergerakan kita dibatasi, bahkan penerapan jarak secara fisik menjadikan suatu keharusan, pertanyaannya adalah bagaimana sebuah karya muncul dengan ruang perenungan dengan kondisi saat ini yang sudah pasti melampaui aspek batasan fisik. 

Pada projek pameran virtual ini, dengan berbagai tantangan yang ada menjadi spesial ketika semua bertolak dengan spesifik medium yaitu kertas. Sebuah medium yang mungkin paling sederhana tetapi juga paling kompleks. Memanfaatkan  aspek terminologi (terbuat dari apa, bagaimana itu dibuat, dan bagaimana sifat permukaannya) dan opsi dari kertas (tebal, tipis,kasar, halus,,transparan,tebal)  yang menjadi pertimbangan dalam  kekaryaan baik di atas kertas, dengan kertas maupun melalui kertas. Atau bahkan memanfaatkan aspek konseptual dari kertas yang bisa jadi melampaui kertas itu sendiri. Karya-karya dalam projek pameran virtual ini tentu muncul dengan berbagai gagasan seperti aspek pictorial dua dimensional, gagasan tiga dimensional,performans, media baru, interdisipliner, hingga konseptual. 

Karya dengan pendekatan dua dimensional meliputi karya-karya Maharani Budi dan Louie Buana, Lintang W, Anna Sungkar, Eko Budhi, Eko Sugiharto, Ernest Irwandi, Ilhamsyah, Izmet Zainal Effendi, Radi Arwinda, Rudy Harjanto, Tjutju Widjaja, Sri Supriyantini, Tjejep R Rohidi, Setiawan Sabana, Boy Gilang, Sarnadi Adam, Sigit Purnomo, dan Komarudin Kudiya. Karya-karya dari nama-nama di atas meliputi berbagai pendekatan image making yang beragam ,seperti Drawing, Painting, CollageCutting dan Printmaking. Karya yang ada dibuat dengan berbagai tema mulai dari potret diri, ekspresi personal, maupun respon terkait situasi sosial maupun kondisi saat ini. 

Karya berikutnya merupakan pendekatan tiga dimensional meliputi  karya-karya Hendy Nansha, Ariesa Pandanwangi, Dolorosa Sinaga, Fadli Abdillah, Arsono, Hilman Syafriadi, Ika Yuni, Kezia L, Lilis Nuryati, Nuning Damayanti, Tetty Mirwa, Taufan H, Setiawan Sabana, dan Supriyatna. Pendekatan  kekaryaan yang dilakukan dari patung konvensional, Found object, Ready Made, sampai objek pakaiTema yang digarap dari soal diri, keseharian, tradisi, mitologi, hingga  arsitektural, 

Bentuk yang lain meliputi karya-karya berbasis media baru, performans dan konseptual. Meliputi karya-karya Dhyani H, Imam Santosa, Ira Adriati, Rotua Magdalena, Ramok Lakoro, Rini Maulina, Wegig M, Endang Caturwati, Syarif Maulana dan Dana WaskitaPenggunaan Video, Augmented Reality, Dokumentasi performans hingga penggunaan text-text menjadi sebuah karya. Dalam basis media ini tema soal respon medium maupun repon peristiwa yang paling mutakhir terjadi. 

Karya dalam proyek pameran ini  muncul dari seniman yang mencoba  berusaha lebih dekat dengan medium kertas lewat metode penciptaan masing-masing, atau mencoba menembus batas-batas dari konvensi kertas. Semua melakukan upaya memahami berbagai fenomena yang terjadi dengan jalan kesenian masing-masing. Jalan yang dipilih oleh seniman melalui sesuatu yangajaib”. Danto pernah menyitir soal ini : 

Of course, it requires interpretation to understand what we are looking at. But as the interpretation advances, different pieces of the scene fall in to place,until we recognize that we are looking at something asthonishing and miraculous. The gap between eye and mind has been bridge by “ the middle term of art”( Danto, 2013:125) 

Menjadi menarik kemudian  adalah bagaimana projek ini memanfaatkan  pengalaman kertas menjadi sesuatu yang berbeda, alih-alih memberikan kualitas tangible yang bisa kita lihat rasakan langsung, justru memberikan posisi yang unik untuk kertas  pada masa depan, dengan menghadirkannya dalam ruang digital. Projek pameran kertas ini merupakan cara sederhana seorang seniman dalam urusannya pada manusia dan kemanusiaan dalam menghadapi persoalan tentang normalitas baru. Terakhir, pada 10 Mei menjadi momentum untuk meluncurkan aspirasi imajiner sebagai hari kertas sejagat ( The World Paper Day)Sebuah ikhtiar untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda di tengah segala  keterbatasan dengan yang terbatas untuk menuju yang tidak terhingga.   

Zusfa Roihan

Daftar Pustaka 

Chopra, Deepak. 2019, Metahuman, Harmony Books, New Yorks , 131 

Danto, Arthur. 2013, What art is, Yale University Press, New Heaven & London, 125