Jejak

Cyanotype photoprint pada kertas canson, instant film photoprint, fotografi digital pada LCD, fotografi digital projector mapping pada kertas sampah struk ATM dan struk belanja

 

Eko Budhi Susanto

2020

Fotografi dan Kertas

Foto dan kertas, tak ubahnya seperti romeo dan juliet. Dari awal kelahirannya, fotografi tidak pernah berdiri sendiri. Dia selalu bergantung pada media lain untuk menampilkan citranya (misalnya pelat tembaga dengan lapisan perak pada daguerreotype, kertas foto yang umum kita ketahui, atau bahkan layar hp). Walaupun demikian, dalam rentang hampir 200 tahun hingga hari ini, tidak dapat dipungkiri kertas adalah salah satu medium yang sangat akrab dengan fotografi, mungkin bisa dikatakan yang paling akrab, dimulai dari Talbotype (1841), fotografi pada medium kertas pertama, hingga photopaper yang umum ditemui di tempat cetak foto bahkan hingga saat ini.

 

Fotografi dan kertas, keduanya erat kaitannya dengan sejarah manusia. Keduanya merupakan ‘jejak’ peradaban manusia. Fotografi ketika pertama kali ditemukan, tujuannya adalah sebagai media dokumentasi. Bahkan hingga hari ini, fotografi masih digunakan oleh banyak orang sebagai media dokumentasi. Kertas, sang cinta sejati fotografi, juga memiliki takdir yang tidak jauh berbeda dengan pasangannya, yaitu sebagai media dokumentasi, sarana manusia memberi jejak pada peradaban, pada anak cucunya, generasi ke generasi.

 

Dengan caranya masing-masing fotografi dan kertas telah menjadi jejak peradaban manusia. Fotografi khususnya, bersama kertas menjalani berbagai cerita, hadir dalam momen-momen penting kehidupan manusia dan terus berkembang. Seakan tidak pernah puas, kini hal-hal remeh pun direkam dalam jejak baik dalam foto maupun kertas. Hal ini dapat kita lihat pada fotografi misalnya dalam berbagai akun sosial media, atau pada kertas, di tempat sampah ATM.

Konsep Karya

Karya berjudul ‘Jejak’ yang dipamerkan dalam Festival Kertas Sejagat ini ingin mengenang perjalanan fotografi dan kertas, disisi lain juga ingin memperlihatkan bagaimana peran kertas pada era digital, yang ternyata tidak hilang, tetapi makin meluas.

 

Set karya ini berisikan foto sampah kertas yang sering ditemui di tempat-tempat perbelanjaan, yakni struk ATM dan struk belanja. Kertas struk adalah hasil dari pencatatan digital jejak kehidupan masyarakat. Kadang dilupakan, tapi tidak jarang juga disimpan karena dianggap penting oleh sebagian orang.

 

Foto dibuat dengan kamera digital dan dipresentasikan dalam berbagai media untuk mengenang perjalanan kisah fotografi dan kertas. Bagian pertama untuk mengenang era awal fotografi diatas kertas, foto dicetak menggunakan teknik cyanotype yakni dengan melakukan penyinaran keatas kertas canson yang sudah dibaluri cairan kimia peka cahaya. Bagian kedua mengenang era fotografi analog, yaitu dengan membuat komposisi memecah image foto dalam beberapa film instan. Bagian ketiga merepresentasikan era fotografi digital, dengan menampilkan slideshow foto dalam LCD. Bagian keempat, monumen fotografi kertas, dibuat dengan memproyeksikan image foto pada representasi medium yang berupa kertas sampah struk ATM dan struk belanja yang dibentuk menjadi kanvas.

 

Karya ‘Jejak’ walaupun menggunakan media fotografi digital dan dipamerkan dalam format digital, juga ingin mengajak pemirsa untuk mengingat kembali pentingnya media fisik/materi dalam kehidupan manusia, dan betapa manusia belum (jika tidak ingin dikatakan tidak bisa) berpisah dengan materi fisik.

Bagian 1 : Era awal Fotografi & Kertas (cyanotype photoprint pada kertas canson ukuran A4 x 7 dan 5x8cm x 8)

Bagian 2 : Era Fotografi Analog (photoprint pada fuji intax)

Bagian 3 : Era Fotografi Digital (foto digital pada LCD)

Bagian 4 : Monumen Fotografi Kertas (fotografi digital projector mapping pada kertas sampah struk ATM dan struk belanja)

KREATOR

Eko Budhi Susanto adalah penggiat, peneliti dan pengajar fotografi di beberapa kampus di Bandung. Selain aktif mengajar, Eko juga mengelola laboratorium fotografi di jurusan DKV ITB. Eko menyelesaikan pendidikan S1 nya di  Teknik Informatika ITB, lalu melanjutkan pendidikan S2 Magister Desain ITB dengan meneliti semiotika fotografi. Saat ini sedang melanjutkan studi Doktoral di FSRD ITB fokus pada penelitian sejarah fotografi Indonesia dan contemporary art photography. Kecintaannya pada fotografi dimulai ketika  ia mengambil matakuliah minor di DKV ITB di tahun terakhir S1 nya. Tidak berhenti disitu, Eko melanjutkan studi fotografinya dengan mengikuti Sekolah Fotografi Tjap Budhi Ipoeng. Setelah mempelajari teknik lanjut fotografi, Eko melanjutkan pendidikan fotografi fashion di NPM photo. Rasa penasarannya yang tidak pernah habis pada bidang fotografi membawanya hingga masuk ke bidang seni rupa kontemporer yang tidak terbatas dalam ide maupun media.